Minggu, 02 Oktober 2011

Sim Chi Yin, Membingkai Migran Dalam Foto


Banyak kisah-kisah pekerja migran Indonesia yang diekspos oleh media massa, baik itu kisah sukses maupun kisah pekerja migran yang mengalami kekerasan fisik oleh majikannya. Namun, diluar itu, pekerja migran merupakan seoarang manusia biasa seperti lainnya.

Kesederahanaan, kisah sedih dan kisah senang tersebut direkam oleh jurnalis fotografer Singapura, Sim Chi Yin, dalam esai foto "Jalan Pulang Yang Panjang". Pengalamannya dalam meliput pekerja migran di Singapura yang sering disiksa dan diperlakukan tidak manusiawi mendorong dirinya melakukan perjalanan mengunjungi keluarga dan komunitas pekerja rumah tangga migran di Jawa Tengah.

"Pada dasarnya saya menangkap dan menuliskan realitas yang sesungguhnya apa yang terjadi saat pekerja tersebut di desa, saat keberangkatan hingga apa yang terjadi ketika pekerja tersebut kembali ke desanya," kata Sim Chi Yin saat berbincang dengan saya, Kamis 29 September 2011.

Ia menjelaskan dalam esai fotonya terdapat 80 foto yang mengkisahkan 25 kisah pekerja migran yang menjadi pekerja domestik atau pembantu di Singapura. Terdapat kisah senang dan kisah sedih dalam esai fotonya yang dijadikan buku berjudul "Jalan Pulang Yang Panjang,Perjalanan Pekerja Migran Indonesia". 

Ada dua kisah yang paling terkesan di benaknya dan hingga kini masih selalu dalam pikiran Chi Yin hingga saat ini. Kisah Sugiyani, perempuan yang akan berangkat ke Singapura sebagai pekerja domestik dan akan berpisah dengan suami, Warsun dan anak semata wayangnya Rola.

Selama seminggu, Chi Yin merekam detik-detik menjelang perpisahan seorang tenaga migran yang juga istri dari seorang suami dan ibu seorang anak. Ikatan yang begitu kuat antara Chi Yin dan keluarga Sugiyani membuat kenangan tersebut masih terekam dalam pikirannya.

"Saya sempat hilang kontak dengan Sugiyani saat Ia sudah bekerja di Singapura karena majikannya melarang Sugiyani berteman dengan wartawan. Tapi saya senang beberapa hari yang lalu saya kembali bertemu suaminya dan mendapatkan nomor ponsel Sugiyani dan saya langsung menelponnya," tuturnya.

Kisah kedua yang masih membekas adalah kisah TKI bernama Keni Binte Carda. Keni, disiksa oleh majikannya selama di Arab Saudi. Di tubuh perempuan berusia 28 tahun tersebut penuh dengan tanda-tanda dan bekas luka yang didapat selama empat setengah bulan di Arab Saudi.

Telinga yang memeleh berantakan, bibir yang tidak lagi sejajar dan puting yang tinggal satu karena digigit oleh majikannya merupakan kondisinya saat ini. Majikannya, seorang dokter bernama Wafa Al-Khuraifi telah menyiksanya tanpa henti pada 2008 lalu.

Keni berusaha melarikan diri namun terkunci. Hingga pada Oktober 2008, majikannya membawa ke bandara dengan menutup kepala hingga ujung kaki Keni untuk menutupi lukanya untuk pulang ke Indonesia. Setibanya di Jakarta, Keni dibawa langsung ke Rumah Sakit Polisi Sukanto oleh staf Bandara yang melihatnya kesakitan.

"sekarang Keni berada di Jeddah untuk menuntut majikannya dan prosesnya masih berlangsung hingga sekarang," katanya.

Chi Yin mengerjakan esai foto ini selama tiga tahun, 2006-2009 menemui banyak pekerja dan keluarga untuk menemukan jawaban kenapa masih banyak orang Indonesia yang ingin tetap menjadi pekerja migran walaupun telah banyak kisah sedih dan penyiksaan. Sebagian besar perempuan yang menjadi pekerja migran ingin melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan sebagian lain ingin terlepas dari permasalahan rumah tangga.

Chi Yin berharap esai fotonya ini dapat menyentuh hati pemerintah Indonesia ataupun negara-negara tujuan pekerja migran, sehingga akan ada peraturan yang benar-benar melindungi pekerja migran. "Fundamental dari esai foto saya adalah memanusiakan pekerja migran, mereka juga manusia bukan mesin. Buruh migran merupakan seorang manusia yang nyata, istri dari seorang suami dan ibu seorang anak,"katanya.

Esai foto Chi Yin juga dipamerkan di Taman Ismail Marzuki dari 29 September-5 Oktober 2011, dibuka oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Sayang, Menteri yang sehari-hari mengurus tenaga kerja Indonesia ini melewatkan foto Keni Binte Candra yang mengerang kesakitan, menggunakan baju di sebuah kamar rumah sakit. 

Versi lain tulisan ini bisa dilihat di:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar