Rabu, 07 September 2011

Salah Kaprah Profesi Wartawan


Banyak orang yang salah kaprah tentang profesi wartawan ini, dan saya mengalaminya dalam sebulan terakhir. Kumpul bersama keluarga besar, menanyakan kerja dimana sekarang dan saya jawab menjadi wartawan. Bayangan mereka saat mendengar pekerjaan menjadi wartawan macam-macam. 

Pertama, "Jadi wartawan itu enak yah, sering dikasih uang sama narasumber". Ini yang sering dilontarkan oleh orang-orang dan dengan sabarnya saya menjelaskan itu. Saya bilang, menerima uang itu tidak boleh dan itu seperti menerima suap. Ada yang mengerti dan ada yang tetap tidak mengerti. 

ada yang mempertanyakan, "itu kan halal?" dan paling bingung menjawab pertanyaan ini. Untungnya waktu itu ada orang yang membantu saya, dia mengerti pekerjaan wartawan dan menjawab "Wartawan itu kan sudah digaji sama perusahaannya, jadi ga boleh nerima uang dari narasumber,". kata-kata itu menyelamatkan saya.

Kedua, ini kebalikannya dari yang pertama. Menjadi wartawan saat wawancara harus memberikan uang kepada narasumber karena telah memberikan informasi. Haduh, yakinlah kalau ini terjadi, gw jamin televisi di Indonesia tidak ada yang gratis, dengerin radio harus bayar dan harga eceran koran pasti 50 ribu per eksemplar per hari.

Memang untuk beberapa kasus, ada media massa yang berani membayar untuk mendapatkan informasi atau data, tapi itu hanya untuk kasus-kasus istimewa saja, dan tidak untuk setiap wawancara. Tampaknya orang yang beranggapan setiap wawancara harus membayar narasumber keseringan nonton reality show dan tidak pernah membaca/menonton/mendengar berita. Ia menganggap reality show adalah keadaan di dunia nyata.

Ketiga, "Enak yah jadi wartawan sering jalan-jalan". Enak sih kesempatan jalan-jalan gratis lebih banyak, tapi percayalah itu tidak seenak yang diduga karena sehabis jalan-jalan para wartawan diwajibkan menulis laporan tersebut. Bahkan di beberapa kasus, para wartawan sepanjang perjalanan sibuk mengetik berita karena terhimpit deadline sehingga tidak ada waktu untuk menikmati perjalanan.

Asumsi terakhir yang sering dilontarkan, "wartawan selalu tahu informasi terlebih dahulu". Yah ini mungkin ada benarnya, karena informasi pasti diolah dahulu oleh wartawan baru dipublikasikan ke masyarakat. Tapi masalahnya adalah wartawan itu banyak ragam/spesialisasinya. Jadi, menjadi wartawan itu bukan serba tahu segala informasi. Kadang ada yang bertanya kepada saya, kasus Nazaruddin secara detail bahkan meminta informasi "off the record" yang beredar, padahal saya adalah wartawan yang diposkan bidang energi dan tidak mengikuti perkembangan kasus Nazaruddin jadi jelas saja saya tidak tahu.

Ada yang mau menambahkan?