Minggu, 02 Oktober 2011

Jangan Jajan Sembarangan!


Dahulu, saya paling mengenyampingkan yang namanya higienitas makanan/tempat makan. Dulu kata higienitas mungkin bukan prioritas utama, bisa kedua atau ketiga. namun setelah kejadian malam ini, mungkin higienitas menjadi prioritas utama di kamus makan.

Dahulu, saat menjadi mahasiswa, saya berprinsip "man koman kamin, semua kuman jadi vitamin". Bahkan dulu, sewaktu membeli martabak telor, sempat kesal dengan bapak-bapak yang memprotes kain untuk mengelap meja pembuatan martabak kotor.  Dalam hati saya waktu itu, kalau mau kain lapnya bersih beli aja di mall.

Kejadian hari ini, mengubah pola pikir saya. Tadi pagi, saya dan pacar kepengen banget makan bubur ayam. Sehabis renang di Hotel Patra Jasa, saya mencari tukang bubur ayam di sekitaran Cempaka Putih. Ketemu, dan lumayan enak. Sebenarnya tempat kaki limanya ga kotor-kotor banget, cuman yang saya ingat waktu itu banyak lalat berterbangan.

Setelah makan bubur, kami berdua berbelanja di Carrefour Cempaka Mas. Selama berbelanja kebutuhan hidup sehari-hari selama satu jam tidak ada masalah sama sekali. Namun masalah itu muncul saat kami ke lantai lima, tempat penjualan komputer dan ponsel. Disana, saya mulai mual. Karena kamar mandi atau WC jauh, jadi saya memutuskan untuk ke tempat parkiran di lantai enam. 

Sebelum tiba di tempat parkiran mobil, tepat sebelum membuka pintu yang menghubungkan tempat belanja dengan parkiran apa yang ditakutkan terjadi, muntah. Bubur ayam yang saya makan saat itu keluar semua. Baju dan tangan saya pun terkena. Untung, tempat itu sepi,tidak ada korban selain saya dan pacar saya. Lantai menjadi saksi bisu, ditambah beberapa orang yang parkir di parkiran paling atas yang melintas tempat saya mengeluarkan isi perut.

Kami pun mencari satpam atau cleaning service untuk meminta tolong membersihkan. Untungnya, saya membawa baju dua, sehingga bisa ganti. Kami putuskan untuk pulang, mengingat kondisi sudah tidak baik. namun perjalanan dari lantai enam ke lantai dasar tidak berjalan mulus. Saat di lantai dua, saya kembali mual dan terpaksa parkir dulu di kamar mandi. 

Saya kembali muntah, dikit, dan itu sakitnya luar biasa. Perut keram dan ulu hati nyeri. setelah itu kami putuskan butuh udara segar, bukan udara yang bersumber dari penyejuk udara. kami kembali ke parkiran lantai dua. ternyata di situ, pacar saya, Shinta, juga ikut muntah. Kaget, dan mulai berpikir, mungkin kami berdua keracunan makanan. 

Kami berdua lemas tak bertenaga karena muntah. Kami putuskan waktu itu untuk segera ke Rumah Sakit terdekat agar tidak menjalar kemana-mana. Saya mencari petugas parkir untuk meminta tolong panggilkan taksi ke parkiran lantai dua. Sempat kecewa sama si tukang parkir, karena dia tidak bisa meninggalkan posnya untuk sekedar memanggilkan taksi ataupun meminta panggil satpam untuk membantu memanggilkan taksi.

Tapi ya sudahlah, berarti dia petugas yang bertanggung jawab menjaga posnya dan mungkin dia takut saat meninggalkan posnya ada mobil yang kenapa-kenapa. Saya sempat muntah di parkiran tersebut, setelah keadaan membaik, saya kembali masuk ke pusat perbelanjaan dan meminta tolong satpam untuk memanggilkan taksi.

Beberapa saat kemudian, taksi datang ke parkiran dan membawa kami ke Rumah Sakit terdekat, Pertamina Jaya. Dalam perjalanan kami sempat muntah masing-masing satu kali. Lagi-lagi itu membuat perut kami berdua keram. 

Setibanya di UGD RSPJ, kami langsung diperiksa. Akhirnya disuntik cairan anti mual dan anti nyeri lambung. Saya pun tertidur, satu jam, hingga akhirnya dibangunkan perawat bahwa pengobatan kami telah selesai dan saatnya membayar. 
Saat sedang menunggu untuk membayar di kasir, saya kembali lemas. Maklum saja, makanan yang dimakan hari itu keluar semua. Setelah selesai membayar, dengan total berdua Rp430 ribu, saya terpaksa kembali tiduran di UGD, Shinta memanggil suster dan dokter. Saran dokter, saya disuntikan "doping" berupa vitamin dan Sangobion, penambah darah agar segar kembali.

Suntikan senilai Rp75 ribu itu manjur ternyata, setengah jam kemudian badan saya segar dan kami memutuskan untuk pulang. 

Hal itu membuat kami berfikir untuk tidak lagi membeli makanan di tempat yang kurang higienis. Kami berdua memaafkan si tukang bubur dan tidak akan menuntut, tapi mungkin kami ingin kembali ke tukang bubur tersebut sembari memberi tahu agar lebih meningkatkan higienitasnya. Kasihan si tukang bubur kalo ada jatuh korban lain.

Total kami menghabiskan uang sebesar Rp500 ribu karena memakan bubur seharga Rp 20 ribu untuk dua porsi.Sakit itu mahal, jadi bersyukurlah kalau kita sehat. Mungkin perut ini sudah menjadi manja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar